Gue pernah ngobrol sama seorang teman yang baru setahun buka kedai kopi. Usahanya lumayan ramai, sampai dia nekat merekrut barista pertama. Dua bulan kemudian, dia nelpon gue jam sebelas malam sambil setengah nangis. Bukan karena baristanya curang atau apa. Masalahnya sederhana: dia sadar dia nggak pernah benar-benar tahu kenapa dia merekrut orang itu.
Nah, ini yang jarang dibahas orang. Semua artikel soal wawancara kerja biasanya ngarah ke pencari kerja — cara jawab pertanyaan HRD, cara nego gaji, cara bikin CV. Padahal di sisi lain meja, ada kamu: pemilik usaha kecil yang mungkin belum pernah jadi pewawancara seumur hidup. Dan justru di situ banyak jebakan yang nggak kelihatan.
Kenapa Rekrut Karyawan Pertama Itu Beda Banget
Kalau kamu punya usaha kecil, merekrut orang pertama itu bukan sekadar "nambah tenaga". Kamu sedang menyerahkan sebagian kecil kendali usahamu ke orang asing. Dia bakal ketemu pelangganmu, pegang uangmu, dan dengar keluhanmu soal supplier. Satu orang yang salah pilih bisa bikin reputasi yang kamu bangun bertahun-tahun ambruk dalam hitungan minggu.
Masalahnya, pemilik usaha kecil sering merekrut pakai feeling. "Kayaknya dia cocok deh." Atau lebih parah: karena panik butuh orang cepat, kandidat pertama yang kelihatan rapi langsung diterima. Gue nggak bilang feeling itu salah. Tapi feeling tanpa pertanyaan yang tepat itu cuma tebak-tebakan yang dibungkus harapan.
Baca juga: Ditolak Mentah-Mentah Usai Interview, Ternyata Ini Biang Keroknya
Jadi sebelum kamu pasang lowongan atau duduk di ruang wawancara, ada lima pertanyaan yang harus kamu jawab dulu — dan ini pertanyaan buat kamu sendiri, bukan buat kandidat.
1. Sebenarnya Kamu Butuh Tenaga, atau Butuh Kepala?
Ini pertanyaan paling dasar tapi paling sering dilewatkan. Kalau yang kamu butuhkan cuma tangan tambahan buat angkat barang atau jaga kasir, kriterianya beda banget sama kalau kamu butuh orang yang bisa mikir sendiri waktu kamu nggak ada di tempat.
Usaha kecil biasanya nggak punya sistem yang rapi. Nggak ada SOP lengkap, nggak ada divisi jelas. Artinya, karyawan pertamamu kemungkinan besar bakal sering menghadapi situasi yang nggak pernah kamu ajarkan. Kalau kamu cuma butuh tenaga, cari orang yang menurut. Kalau kamu butuh kepala, cari orang yang berani ambil keputusan kecil tanpa nunggu kamu. Dua tipe ini nggak selalu ada di orang yang sama.
2. Kamu Siap Kehilangan Kontrol Sepenuhnya?
Ini yang bikin teman gue nangis jam sebelas malam tadi. Dia merekrut barista, tapi tiap hari dia masih ngecek sendiri semua pesanan, masih ngoreksi cara bikin kopi, masih buka grup chat jam dua pagi buat mastiin semuanya beres.
Kalau kamu merekrut orang tapi nggak pernah benar-benar melepas satu tugas pun ke dia, kamu bukan merekrut karyawan. Kamu cuma nambah orang buat nontonin kamu kerja.
Sebelum wawancara, tanya ke diri sendiri: tugas apa yang benar-benar bakal gue serahkan penuh? Kalau jawabannya "belum tahu", tunda dulu rekrutmennya. Kamu bakal buang uang gaji buat orang yang nggak punya kerjaan jelas, dan dia bakal bingung sendiri kenapa dia dibayar.
3. Berapa Lama Kamu Bisa Bertahan Kalau Orang Ini Nggak Cocok?
Ini soal duit, dan banyak pemilik usaha kecil males ngitungnya. Gaji satu orang itu bukan cuma angka di slip gaji. Ada biaya pelatihan, waktu kamu yang kepotong buat ngajarin, dan risiko pelanggan kabur karena pelayanan sempat kacau di masa transisi.
Kalau kamu cuma punya tabungan usaha buat dua bulan ke depan, jangan merekrut orang dengan gaji yang bikin kamu nggak bisa bertahan kalau ternyata salah pilih. Lebih baik tunggu, atau ambil orang part-time dulu. Kedengeran pelit? Bukan. Itu namanya sadar diri.
Hitung kasar dulu, jangan kira-kira
Coba tulis di kertas: gaji sebulan, ditambah kira-kira 30 persen buat biaya tersembunyi (pelatihan, kesalahan awal, waktu kamu yang kebuang). Angka itu yang harus kamu siapkan sebelum orangnya masuk. Kalau angkanya bikin kamu deg-degan, berarti belum waktunya.
4. Kamu Bakal Ngomong Jujur soal Kondisi Usahamu?
Ini yang paling jarang dibahas, padahal penting banget. Banyak pemilik usaha kecil waktu wawancara sengaja bikin usahanya kelihatan lebih besar dan lebih mapan dari kenyataan. Bilang ada "tim", padahal isinya dia sendiri. Bilang "sistemnya sudah jalan", padahal semuanya masih serba manual.
Gue ngerti kenapa orang ngelakuin itu. Takut kandidat bagus kabur kalau tahu kenyataannya. Tapi coba pikir: kalau dia kabur karena tahu kenyataan, dia memang bukan orang yang kamu butuh. Yang kamu butuh justru orang yang mau masuk ke kekacauan itu dan bantu rapihin.
Jujur soal jam kerja yang nggak teratur, soal gaji yang mungkin belum bisa naik dalam setahun, soal kadang harus bantu angkat galon. Kandidat yang tetap mau setelah dengar semua itu jauh lebih berharga daripada kandidat yang datang dengan ekspektasi salah lalu kecewa di bulan kedua.
5. Kamu Sudah Siap Diwawancarai Balik?
Kandidat yang bagus itu bakal nanya balik. Dan pertanyaannya sering bikin pemilik usaha kecil kaget: "Kenapa posisi ini kosong?", "Bagaimana cara kamu menilai kerja orang?", "Kalau ada masalah, ke siapa saya lapor?"
Kalau kamu belum bisa jawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan tenang, itu tanda kamu belum siap jadi atasan. Bukan berarti kamu gagal. Cuma berarti kamu perlu duduk sebentar, mikirin jawabannya, baru pasang lowongan.
Wawancara kerja itu bukan ujian buat kandidat doang. Itu cermin buat kamu: seberapa jelas kamu tahu usahamu mau dibawa ke mana, dan seberapa siap kamu kerja bareng orang lain. Dua hal itu nggak bisa dipalsuin waktu ngobrol empat mata.
Jadi sebelum kamu sibuk nyari contoh pertanyaan wawancara di internet, mulai dari lima pertanyaan di atas dulu. Jawab sendiri, jujur, mungkin sambil ngopi. Kalau semua sudah jelas, baru deh cari orangnya. Usahamu kecil, jadi setiap orang yang masuk itu bobotnya besar banget. Jangan sia-siakan.